Home

Polling Pengunjung

Bagaiman Tampilan Situs Ini ?
 
Designed by:
ARSITEKTUR CANDI CETHA PDF Cetak E-mail

A.     Masuknya Budaya Hindu-Buddha ke Indonesia

Indonesia memasuki periode sejarah setelah memperoleh pengaruh dari India. Periode sejarah kebudayaan Indonesia yang oleh banyak penulis dinamakan sebagai periode klasik ditandai oleh ciri-ciri Hindu atau Budha pada peninggalan purbakalanya.


Ciri-ciri ini ditemukan antara lain dalam arsiktektur candi dan arca yang berkaitan dengannya, penggunaan bahasa sanskerta dalam banyak prasasti dan ketaatan pada prosodi India.
 

Agama Hindu dan Budha tidak diperkenalkan kepada bangsa Indonesia melalui paksaan atau penjajahan. Sedyawati mengungkapkan bahwa peristiwa-peristiwa budaya dan agama, pengenalan bahasa Sanskerta untuk menulis dan penerimaan mitologi Budha dan Hindu bukanlah bidang para saudagar. Kemungkinan lebih besar terdapat pada peranan pangeran-pangeran yang berkuasa di kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia dipengaruhi oleh para pendeta dan brahmana dari India. Pendeta-pendeta itu bertanggung jawab atas pengenalan suatu agama yang memungkinkan raja mengidentifikasikan dirinya dengan dewa atau Bodisatwa sehingga memperkuat kekuasaannya (Sediawati, 2002 : 56). 

B.     Pengaruh Budaya Hindu-Buddha terhadap Arsitektur Candi di Indonesia

Candi merupakan suatu bangunan kuno yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara keagamaan. Candi digunakan oleh umat Hindu dan Budha, yang awalnya merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan abu jenazah para raja yang telah meninggal. Pada perkembangan selanjutnya candi berkembang sebagai tempat bersembahyang untuk menyembah dewa dan menghormati raja yang telah meninggal (Ensiklopedia Nasional Indonesia, 1997 : 32). Antara abad ke-7 sampai 15 M, ada ratusan bangunan keagamaan yang didirikan dari batu bata (terakota) dan batu andesit. Bangunan inilah yang sekarang kita kenal dengan nama candi. Candi tersebar di Sumatera, Jawa, dan Bali. Candi merupakan peninggalan arsitektur dari masa klasik. 

Candi berasal dari kata candika, nama lain dari dewi kematian, istri Siwa. Candika merupakan kepanjangan dari kata Candikarga yang artinya  tempat kediaman dari istri Siwa. Candi sering dihubungkan dengan kematian, karena berkaitan dengan kediaman Dewi Kematian, sehingga candi ini digunakan untuk menghormati raja yang telah meninggal dunia. Bagi agama Hindu, candi didirikan untuk dipersembahkan kepada setiap dewa Hindu. Ciri Hindu yang melekat pada Candi adalah terdapat tempat meletakkan peti atau wadah abu jenazah. Di atas abu dan persembahan, terdapat simbol suci, yakni lingga-yoni. 

Indonesia merupakan salah satu negara yang memperolah pengaruh luas agama Hindu. Pengaruh Hindu di Indonesia terutama terdapat pada arsitektur bangunan candi. Selain dianggap suci, candi digunakan sebagai tempat menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal. Fungsi candi kemudian berkembang menjadi tempat sembahyang memuja dewa dan menghormati para raja yang telah meninggal. 

C.     Potensi Kekayaan Sejarah Hindu-Buddha pada Candi Cetha

Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki kekayaan peninggalan candi yang cukup banyak ialah Jawa Tengah, di mana terdapat sebuah candi bernama Candi Cetha di lereng Gunung Lawu. Berikut ini sebuah kutipan indah yang berasal dari van der Vlies (dalam Stutterheim, 1930 : 1) mengenai candi tersebut. 

Di Jawa Tengah pada lereng Pegunungan Lawu yang lebar dan tinggi, hingga sekarang masih terdapat peninggalan-peninggalan agama kuno orang-orang Jawa. Dari tanah tinggi Karangpandan, tempat Pangeran Mangkunegara II mendirikan pesanggrahannya, nampak bukit-bukit yang rimbun dengan tumbuh-tumbuhan hijau segar. Sekonyong-konyong mata menatap kepada bukit yang menjulang tinggi, padat dengan tumbuh-tumbuhan. Kalau pandangan mata kita alihkan ke timur, nampaklah lereng Gunung Lawu dan pada cuaca yang bersih nampaklah Candi Sukuh dalam alam yang tenang sepi ini. Di sebelah Timur laut, tersembunyi diantara hutan-hutan cemara, nampak samara-samar peninggalan yang sama seperti di Candi Sukuh, yaitu Candi Cetha. 

Hingga sekarang peninggalan-peninggalan yang diberitakan oleh Van der Vlies masih ada di tempatnya semula, meskipun hutan-hutan di sekitarnya sudah gundul, harimau dan babi hutan sudah tidak ada. 

Dalam banyak hal, Candi Cetha masih merupakan misteri. Arti sebenaranya dari candi tersebut, meskipun demikian, akan menjadi jelas bila orang menyelami alam pikiran dan cerita turun-temurun dari para pendirinya yaitu orang-orang Jawa. Candi Cetha dianggap bukan termasuk peninggalan Jawa kuno yang termegah atau terbesar, namun candi ini tergolong banyak menarik perhatian, karena selain masih banyak misteri yang belum tersingkap dari candi ini, terdapat pula keunikan bentuk berupa bangunan candi Hindu yang masih mengedepankan aspek kebudayaan lokal yang demikian kental bersandingan dengan unsur kebudayaan India. 

Candi Cetha berarsitektur klasik, sewaktu diketemukan terdiri dari sebelas teras di muka yang sarat akan ornamen batu rebah yang melambangkan hiasan bola di lehernya, serta bentuk batu datar berbentuk segi tiga dengan hiasan-hiasan fauna-fauna lambang kesuburan, seperti tiga ekor katak, seekor fauna laut yang dikenal dengan sebutan mimi, seekor belut, dan tiga ekor kadal. Candi ini juga sarat akan lambang-lambang kosmis dengan lingga sebagai patokan Gunung Meru. Candi yang dianggap merupakan perpaduan antara budaya Jawa Kuno dan Hindu India ini, kerap disebut dibangun oleh raja-raja wangsa Brawijaya, meskipun hingga saat ini pada hakekatnya masih samar-samar. 

D.     Arsitektur Candi Cetha

Candi Cetha adalah candi Hindu yang merupakan serangkaian dari Candi Sukuh. Kompleks Candi Cetha terletak di lereng barat gunung Lawu. Berada pada ketinggian ± 1400 m dpl. Secara administratif, Candi Cetha berada di Dukuh Cetha Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Adapun secara astronomis, terletak pada 111° 09’ 14” BT dan 07º 35’ 48” LS. Mayoritas agama masyarakat sekitar candi tersebut didominasi oleh Hindu hingga mencapai 99 persen. 

Candi Hindhu di sangat diidentikan dengan karakter keagamaan Hindhu-Siwa. Namun hanya beberapa bangunan religi yang berasal dari tempat pemandian dengan patung dewa, yang biasanya bersifat Visnuistik. Menurut penelitian terbaru, bentuk bangunan tersebut tidak termasuk dalam term kuil, walau sesekali memiliki fungsi religi di dalamnya. 

Kuil Siwa di Jawa mempunyai basis struktur yang sama. Yakni di ruang dalam, ruang tengah, yang merupakan represantatif dari Dewa Siwa, baik secara antropomorfik ataupun bentuk lainya. Represensi bisa dalam satu candi saja. Candi bertipe Hindu-Siwa bisa dikatakan sebagai candi lengkap jika didalamnya ada dua dewa pendamping lain, yakni Durga Mahisusaramardini, Ganesa, dan resi Agastya. Biasanya pula ada dua bangunan lain yang terpisah guna menghargai dua dewa trimurti lain, yakni Brahma dan Visnu (Sediawati, 2007 : 45). 

Candi Cetha ini didirikan oleh Raden Brawijaya. Pada waktu itu keadaan di Jawa suram. Apalagi ditambah dengan masuknya pengaruh Islam di Jawa. Majapahit saat itu merupakan kerajaan di Jawa timur yang masih memeluk Hindu. Kewibawaan dan kekuasaannya sudah sangat  menurun. Perdagangan yang menjadi urat nadi kemakmurannya mundur dan beralih ke tangan lain. 

Berdirinya Candi Cetha berkaitan dengan larinya Raden Brawijaya, Raja Majapahit terakhir (sekitar abad 15) dari kejaran putranya Raden Patah penguasa Demak, setelah Raden Patah mengobrak-abrik Sukuh. Brawijaya lari ke arah timur laut mendirikan Candi Cetha. Candi belum selesai dibikin ternyata bertambah satu yang mengejar, yakni Adipati Cepu, akibat pertikaian lama. Maka Brawijaya lari lagi dan akhirnya moksa di Puncak Lawu (Purwadi, 2005 : 63). 

Keberadaan kompleks Candi Cetha pertama kali dilaporkan oleh Van der Vlis pada tahun 1842. Selanjutnya kekunaannya banyak mendapat perhatian dari para ahli purbakala seperti W.F. Stutterheim, K.C. Crucq, N.J. Krom, A.J. Bernet Kempers, Riboet Darmosoetopo dkk. dll. Pada tahun 1928, Dinas Purbakala telah mengadakan penelitian melalui ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap. 

Berdasarkan penelitian Van der Vlis maupun A.J. Bernets Kempers, kompleks Candi Cetha terdiri dari empat belas teras. Namun, kenyataan yang ada saat ini Candi Cetha ini terdiri dari 13 teras berundak yang tersusun dari Barat ke Timur sepanjang 190 m. Makin ke belakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua. 

Bentuk seni bangunan Candi Cetha mempunyai kesamaan dengan Candi Sukuh. Yakni di bangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa Prasejarah. Bentuk susunan bangunan seperti ini sangatlah spesifik. Dan tidak ditemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah. 

Pada kompleks Candi Cetha banyak dijumpai arca-arca yang mempunyai ciri-ciri masa Prasejarah. Misalnya arca digambarkan dalam bentuk sederhana, kedua tangan diletakkan di depan perut atau dada. Sikap arca seperti ini menurut para ahli mengingatkan pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Selain itu juga terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan cerita Cuddhamala seperti Candi Sukuh dan relief-relief binatang seperti kadal, gajah, kura-kura, belut, dan ketam. 

Mengenai masa pendirian Candi Cetha dapat dihubungkan dengan prasasti yang berangka tahun 1373 Saka atau = 1451 Masehi. Berdasarkan prasasti tersebut serta penggambaran figure binatang maupun relief dan arca-arca yang ada, kompleks Candi Cetha diperkirakan berasal dari sekitar abad 15 Masehi dari masa Majapahit akhir. 

Bangunan paling utama pada kompleks Candi Cetha terletak pada halaman paling atas atau belakang. Bentuk bangunan dibuat seperti Candi Sukuh dan ini merupakan hasil pemugaran pada akhir tahun 1970-an bersama dengan bangunan-bangunan pendopo dari kayu. Sangat disayangkan bahwa “pemugaran” atau lebih tepat disebut pembangunan oleh “seseorang” terhadap Candi Cetha ini tidak memperhatikan konsep arkeologi. Sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. 

E.     Harapan dari Keberadaan Objek Candi Cetha

Candi Cetha merupakan salah satu wujud nyata khasanah kebudayaan Indonesia. Dari uraian di atas disebutkan bahwa Candi Cetha adalah candi yang didirikan Raden Brawijaya dari Majapahit. Merupakan peninggalan Hindu dari abad XIV pada masa akhir pemerintahan majapahit. Berlokasi di lereng Gunung Lawu sebelah barat masuk kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, di kelilingi kelebatan rimba dan sejuknya udara kebun the kemuning, menjanjikan keindahan panorama alam untuk bersama kita nikmati dan tentunya menambah wawasan kita tentang kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Fungsi candi ini berbeda dengan candi Hindhu lain, candi ini sebagai tempat pemujaan terhadap Tuhan.sampai saat inipun masih tetap di gunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama hindhu yang taat. Sejak tahun 2005, setelah berada di bawah naungan Dinas Pariwisata, Candi Cetha kemudian memiliki fungsi tambahan yaitu sebagai objek pariwisata. Potensi pariwisata ini dikembangkan untuk memperkenalkan objek-objek arsitektur peninggalan bersejarah Nusantara. Terlebih khusus untuk mendekatkan masyarakat pada nilai-nilai kesejarahan nasional dari masa Hindu-Buddha. 

Daftar Pustaka

Miksic, John. 2002. ‘Sumber-sumber Arsitektur batu Indonesia Awal’, dalam Indonesia Heritage: Arsitektur. Jakarta: Buku Anak bangsa. 

______. 2002. ‘Kediaman Para Dewa: Arsitektur dan Alam Semesta’, dalam Indonesia Heritage: Arsitektur. Jakarta: Buku Anak bangsa. 

______. 2002. ‘Situs Punden Berundak’, dalam Indonesia Heritage; Arsitektur. Jakarta: Buku Anak bangsa. 

Purwadi. 2005. Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Bina Media. 

Sediawati, Edi. 2002. ‘Penganutan Agama Budha dan Hindu’ dalam Indonesian Heritage; Sejarah Awal. Jakarta: Buku Anak Bangsa. 

Sediawati, Edi. 2007. Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: Grafindo Persada. 

Stutterheim, W.F. 1930. Gids voor de Oedheden van Soekoh en Tjeta, Solo. 

Suhartati, dkk. 2007. Fungsi dan Makna Simbolis Genta di Jawa Tengah. Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Ronggowarsito. 

Soekmono, R. 2002. ‘Candi; Lambang Alam Semesta’, dalam  Indonesia Heritage; Arsitektur. Jakarta: Buku Anak Bangsa. 

Tim Penulis. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 4. Jakarta: P.T. Cipta Adi Pustaka, 1989. 

Sumber Internet: 

Jurnal Nasional, 22 Maret 2009, dalam http://galikano.Multiply.com/journal/item/121 

http://harianjoglosemar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5747 

Self Evaluation  Kit Online, http://galikano.multiply.com/journal/item121, diakses pada 10/06/09

http://www.tempointeractive.com/hg/nusa/jawamadura/2005/07/29/brk,20050729-64578,id.html 

Online dalam http;//www.eljohn.net/berita.php?kode=1&idnews=2413 

Sumber Wawancara: 

Rudra dari Dinas Pariwisata. 

Cipto, juru kunci Candi Cetha. 

Pak Asmin, penjaga kebersihan Candi Cetha dari Dinas Pariwisata.

Comments
Add New Search
Adel   |125.161.130.xxx |2019-07-22 20:06:34
Seperti yang kita ketahui,agama Hindu Buddha merupakan agama yang pertama kali
masuk dan muncul di Indonesia. Yang dimana,metode penyebarannya tidak
berdasarkan paksaan untuk menganut agama tersebut.Salah satu candi peninggalan
Hindu ialah Candi Cetha.
Candi Cetha merupakan salah satu peninggalan candi
Hindu yang ada di Indonesia.
Namun,Sekarang ini banyak masyarakat yang tidak
mengetahui keberadaan candi Cetha tersebut.Padahal candi tersebut menyimpan
banyak keindahan melalui arsitekturnya serta mengandung makna tersendiri.Untuk
itu, seharusnya kita sebagai masyarakat Indonesia harus tetap melestarikan
keberadaan peninggalan sejarah tersebut
Ronald Abraham   |110.136.99.xxx |2019-07-28 18:48:58
Indonesia memasuki periode sejarah setelah memperoleh pengaruh dari India.
Periode sejarah kebudayaan Indonesia yang oleh banyak penulis dinamakan sebagai
periode klasik ditandai oleh ciri-ciri Hindu atau Budha pada peninggalan
purbakalanya.

Ciri-ciri ini ditemukan antara lain dalam arsiktektur candi dan
arca yang berkaitan dengannya, penggunaan bahasa sanskerta dalam banyak prasasti
dan ketaatan pada prosodi India.

Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki
kekayaan peninggalan candi yang cukup banyak ialah Jawa Tengah, di mana terdapat
sebuah candi bernama Candi Cetha di lereng Gunung Lawu. Berikut ini sebuah
kutipan indah yang berasal dari van der Vlies

Candi merupakan suatu bangunan
kuno yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara keagamaan. Candi
digunakan oleh umat Hindu dan Budha, yang awalnya merupakan tempat yang
digunakan untuk menyimpan abu jenazah para raja yang telah meninggal. Pada
perkembangan sel...
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Kalendar

August 2019
MTWTFSS
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Anda pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini327
mod_vvisit_counterKemarin1018
mod_vvisit_counterMinggu Ini327
mod_vvisit_counterBulan Ini25689
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung4415726