Home

Polling Pengunjung

Bagaiman Tampilan Situs Ini ?
 
Designed by:
REINTERPRETASI KEBUDAYAAN JAWA PDF Cetak E-mail

A.    Pendahuluan

Republik Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbentang dari ujung barat laut Pulau Sumatra hingga ke selatan Papua sepanjang kurang lebih 5.400 kilometer, sedangkan lebar utara-selatan kurang lebih 1.900 kilometer.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa multietnik dan multikultural, terdiri dari sekitar 300 suku bangsa dan 250 bahasa yang tersebar di sekitar 14.000 pulau. Salah satu bagian dari kepulauan kaya tersebut adalah Pulau Jawa. Pulau Jawa, bersama Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, merupakan bagian dari Kepulauan Sunda Besar. Pulau dengan panjang kurang lebih 1.100 kilometer dan lebar rata-rata 120 kilometer ini, terletak antara derajat garis lintang selatan ke-5 dan ke-8, dan dengan luas 132.187 kilometer persegi (termasuk Madura) Jawa memuat kurang dari tujuh persen dari tanah seluruh Indonesia (Magnis-Suseno 2002: 9-10). 

Kebudayaan dibangun oleh masyarakat dan digunakan demi kemaslahatan masyarakat itu sendiri. Secara sederhana, dikatakan Mulyono (1991: 12), masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang terorganisasi yang hidup dan bekerja sama, yang berintegrasi dalam mencapai tujuan bersama. Masyarakat dan kebudayaan merupakan elemen yang saling terkait. Kebudayan menunjuk pada apa yang ada dalam pikiran masyarakat, sedangkan masyarakat menunjuk pada orang-orangnya. Kebudayaan cenderung dinamis, demikian pula kebudayaan masyarakat Jawa, mengalami perubahan. 

Sebagai salah satu kebudayaan pembentuk bangsa Indonesia, kebudayaan Jawa merupakan kebudayaan yang mengalami perubahan seiring dengan dinamika perkembangan zaman. Kebudayaan Jawa menemukan dirinya dalam sebuah wujud keragaman yang senantiasa memperkaya dirinya dengan masuknya berbagai pengaruh, sejak masa Hindu-Budha hingga masa kolonial. Manifestasi kebudayaan yang terbentuk berupa perilaku sosial dalam wujud nyata berupa pengetahuan, kepercayaan, nilai-nilai, dan aturan-aturan yang mengatur  perilaku sosial yang mengatur dalam masyarakat. Menurut Mulyono (1991: 11) perilaku sosial sebagai manifestasi kebudayaan merupakan pola-pola perilaku yang secara ideal diharapkan oleh masyarakat yang bersangkutan. 

Karya ini mengemukakan permasalahan mengenai bagaimana masyarakat Jawa dan kebudayaannya dapat menghadapi serangkaian perubahan yang selalu berlangsung, terutama pada masa setelah semakin kuatnya pengaruh modernisasi. Tujuannya adalah mengetahui sejauh mana masyarakat Jawa dan kebudayaannya dapat menghadapi serangkaian perubahan yang selalu berlangsung, terutama pada masa setelah semakin kuatnya pengaruh modernisasi. Interaksi dengan kebudayaan asing memperkaya keragaman budaya yang membentuk satu kebudayaan baru. Interaksi tersebut dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kian lama kian berkembang. Dengan kata lain, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mempermudah akses antar wilayah yang mempermudah interaksi antar budaya. Penemuan-penemuan alat-alat transportasi memungkinkan interaksi dua budaya yang berlainan bertemu. Kebudayaan satu akan mempengaruhi kebudayaan lain yang lebih lemah. Masuknya kebudayaan Cina, India, Islam dan Eropa mempengaruhi budaya asli Jawa. Pengaruh kebudayaan asing ini berpadu dengan kebudayaan lokal yang melahirkan bentuk berbeda, umumnya disebut akulturasi.

B.    Kebudayaan Jawa

Kebudayaan jawa merupakan salah satu kebudayaan utama di Indonesia. Menurut Kadiran (dalam Koentjaraningrat 1988: 329), daerah kebudayaan Jawa itu luas, yaitu meliputi seluruh bagian tengah dan timur Pulau Jawa. Terdapat daerah yang disebut Kejawen, yaitu Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang, dan Kediri. Daerah di luar itu disebut Pesisiran dan Ujung Timur. Dalam seluruh rangka kebudayaan Jawa ini, dua daerah luas bekas Kerajaan Mataram, sebelum terpecah pada 1755, yaitu Yogyakarta dan Surakarta, adalah merupakan pusat dari kebudayaan tersebut. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa, terdiri dari ngoko dan kromo. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab dan terhadap orang yang lebih muda serta lebih rendah derajat serta status sosialnya. Bahasa Jawa Kromo digunakan untuk berbicara dengan yang belum dikenal akrab, tetapi yang sebaya dalam umur mapupun derjat, dan juga terhadap orang yang lebih tinggi umur serta status sosialnya. Bahasa Jawa dalam arti sebenarnya dijumpai di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Menurut Magnis-Suseno (2002: 11), yang disebut orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa yang sebenarnya itu.

Dalam wilayah kebudayaan Jawa dibedakan lagi antara penduduk pesisir utara di mana hubungan perdagangan, pekerjaan, nelayan dan pengaruh Islam lebih kuat menghasilkan bentuk kebudayaan pesisir dan daerah-daerah Jawa pedalaman, sering disebut Kejawen. Kebanyakan orang Jawa hidup sebagai petani atau buruh tani. Sebagian besar Pulau Jawa besifat agraris dan penduduknya masih hidup di desa-desa. Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat Jawa, di pedalaman adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Secara administratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintahan kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh (Kodiran dalam Koentjaranigrat 1988: 331). Menurut Magnis-Suseno (2002: 17) tatanan sosial tradisional terpenting adalah desa yang berdiri sendiri. Desa merupakan basis agraris masyarakat Jawa.

Matapencaharian hidup sebagian besar masyarakar Jawa di desa-desa adalah bertani, di samping sumber penghidupan dari pekerjaaan-pekerjaan kepegawaian, pertukangan, dan perdagangan. Banyak di antara orang di desa yang tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas, bahkan banyak pula yang tidak mempunyai sama sekali. Orang itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani, menyewa tanah, bagi hasil, atau menggadai tanah.

Dalam sistem kekerabatan Jawa keturunan dari ibu dan ayah dianggap sama haknya, dan warisan anak perempuan sama dengan warisan anak laki-laki. Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak dan merupakan kelompok kekerabatan dasar dalam hidup setiap orang Jawa. Sistem kekerabatan berdasarkan prinsip keturunan bilateral. Sedangkan sistem istilah kekerabatannya menunjukkan sistem klasifikasi menurut angkatan-angkatan. Semua kakak laki-laki serta kakak wanita ayah dan ibu, beserta istri-istri maupun suami-suami masing-masing diklasifikasikan menjadi satu dengan satu istilah siwa atau uwa (Kodiran dalam Koentjaraningrat 1988: 337). Selain keluarga inti, terdapat keluarga yang diperluas, yaitu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Mereka mewujudkan suatu kelompok sosial berdiri sendiri-sendiri, baik dalam anggaran belanja rumah tangga maupun dapurnya, meski mereka tinggal bersama.

Bentuk kelompok kekerabatan yang lain adalah sanak-sedulur. Kelompok kekerabatan ini, terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. Biasanya mereka saling membantu ketika berlangsung peristiwa-peristiwa penting. Bentuk kekerabatan lainnya ialah alurwaris. Kelompok ini terdiri dari samua kerabat sampai tujuh keturunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. Di antara tugas terpenting para anggota  adalah memelihara makam leluhur.

Gotong royong merupakan bentuk hubungan sosial masyarakat Jawa. Sistem ini dipahami tidak sekedar sebagai perluasan hubungan keluarga, namun sebagai perluasan hubungan kekerabatan yang mempunyai pengaruh kuat atas seluruh kompleks hubungan interpersonal. Di samping bentuk-bentuk kerja gotong royong selalu terbuka kemungkinan untuk memperoleh tenaga kerja dan pelayanan-pelayanan melalui pengupahan biasa. Perjanjian-perjanjian kerja di desa pun selalu bersifat idividualis (Magnis-Suseno 2002: 18).

Ikatan kekeluargaan orang Jawa demikian kuat yang menurut Handayani dan Novianto (2004: 77) menjadi salah satu karakteristik kebudayaan Jawa yang menonjol. Bagi orang Jawa membantu anggota keluarga besar dalam satu hubungan kekerabatan menjadi tanggung jawab moral, terutama saat mereka mengalami kesulitan, termasuk menghadapi pengaruh-pengaruh dari luar.  Kuatnya ikatan keluarga dalam masyarakat Jawa ternyata tetap bertahan ketika mereka merantau di kota besar seperti Jakarta.

Orang Jawa membedakan dua golongan sosial: (1) wong cilik (orang kecil), terdiri dari sebagian besar massa petani dan mereka yang berpendapatan rendah di kota, dan (2) priyayi di mana termasuk kaum pegawai dan orang-orang intelektual. Di samping kedua lapisan sosial-ekonomis tersebut, masih dibedakan dua kelompok atas dasar kepercayaan, yang secara nominal termasuk agama Islam, yaitu santri dan kejawen; yang disebut pertama hidup dalam kesadaran dan cara hidup berdasarkan ajaran Islam, sedangkan yang disebut kedua, dalam kesadaran dan kehidupannya lebih ditentukan oleh tradisi-tradisi Jawa pra-Islam. 

C.    Masyarakat Jawa dan Modernisasi

Masuknya pengaruh Barat ke Jawa diawali dengan masuknya orang-orang Eropa. Banyak berkembang anggapan bahwa masuknya pengaruh tersebut pertama kali menjadi titik penentu yang paling penting dalam sejarah kawasan Asia Tenggara, namun Ricklefs beranggapan bahwa pandangan tersebut tak dapat dipertahankan, karena hal itu pada dasarnya merupakan fenomena dari masa-masa kemudian. Eropa bukanlah wilayah yang paling maju pada abad XV, juga bukan merupakan kawasan paling dinamis (2005: 61). Kekuatan paling besar saat itu adalah Islam, di mana pada tahun 1453 orang-orang Turki Otoman menaklukkan Konstantinopel, dan di ujung timur dunia Islam, agama ini berkembang di Indonesia dan Filipina.

Kemajuan dalam hal pelayaran yang diperoleh Portugis, hanya membawa bangsa itu pada petualangan dan hasrat memperoleh emas, memenangi pertempuran dan mengalahkan lawan-lawan mereka yang beragama Islam. Hubungan-hubungan yang selanjutnya terjalin hanya sebatas hubungan dagang dan di Indonesia peran Portugis segera terganti setelah teknologi pelayaran dan persenjataan mereka berhasil dipelajari oleh orang-orang Indonesia yang menjadi musuhnya dan upaya Kristenisasi mendapat penentangan dari penguasa setempat. Aspirasi dan strategi Portugis kemudian diwariskan ke Belanda. Orang-orang Belanda membawa organisasi, persenjataan, kapal-kapal dan dukungan keuangan yang lebih baik serta kombinasi antara keberanian dan kekejaman yang sama (Ricklefs 2005: 69).

Setelah persaingan di antara perusahaan dagang Belanda berujung kepada terbentuknya VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) pada 1602, maka Belanda kian memperoleh keberhasilan dalam menguasai perdagangan di Nusantara. Pada 1930 Belanda telah memperoleh pijakan yang kokoh untuk mendapat hegemoni perdagangan atas perniagaan laut Indonesia. Oleh karena itu VOC harus melakukan suatu kebijakan militer yang bahkan lebih agresif, dengan campur tangan secara langsung dalam urusan dalam negeri beberapa negara di Indonesia. Sampai di sini pengaruh Eropa belum terlihat, karena interaksi kebudayaan yang intensitasnya sedikit.

Pengaruh Eropa mulai nampak dalam kehidupan masyarakat Jawa manakala kekuatan utama di tengah Jawa terpecah. Setelah tahun 1755, Perjanjian Giyanti, konflik internal kerajaan menyebabkan krisis bagi Yogyakarta, justru ketika ancaman orang-orang Eropa muncul secara tiba-tiba. Akibatnya, dikatakan Ricklefs (2005: 241), adalah  hancurnya kemerdekaan Jawa secara total dalam waktu kurang dari empat puluh tahun sesudah wafatnya Hamengkubuwono I, dan dimulainya zaman penjajahan yang sebenarnya dalam sejarah Jawa. Memasuki abad XX penjajahan yang lebih dalam dilakukan dan interfensi kebudayaan Barat terhadap Jawa kian tak terbendung.

Masyarakat Jawa telah banyak mengadopsi berbagai bentuk kebudayaan Barat, yang merupakan bagian dari modernisasi. Berbagai teknologi yang berkembang pesat tak dapat dipungkiri adalah hasil dari kebudayaan Barat. Demikian pula dengan perkembangan nilai sosial-budaya dan berbagai wujud kebudayaan lainnya, telah merangsek kehidupan masyarakat Jawa. Mulyono (1991: 32) mengatakan bahwa perubahan muncul karena pertumbuhan penduduk, yang mendorong digunakannya kebudayaan baru. Kodiran menunjukkan pertumbuhan penduduk di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura yang pesat sejak tahun 1930 di mana pada waktu itu berjumlah 30.321.000 jiwa dengan kepadatan 402 per kilometer persegi, dan tiga puluh tahun kemudian, menurut angka sensus tahun 1961, penduduk ketiga daerah tersebut adalah 42.471.000, dengan kepadatan penduduk rata-rata 567 perkilometer persegi. Peningkatan jumlah penduduk yang pesat, seperti itu menyebabkan perlunya dilakukan penyesuaian dalam bnyak hal, seperti dalam transportasi, di mana harus ditambah armada angkutan dan modernisasi angkutan guna kelancaran dan kepuasan serta keselamatan yang jauh lebih memadai.

Perubahan dalam modernisasi juga disebabkan karena pengaruh kontak kebudayaan. Mulyono menunjukkan pengaruh kontak kebudayaan ditunjukkan dari peralatan perabot rumah tangga, pakaian, sistem pendidikan dan pemerintahan. Masyarakat semakin nyaman dengan kemudahan yang diberikan oleh keberadaan peralatan rumah tangga, kendaraan, dan berbagai sarana lainnya. Sistem pemerintahan Indonesia yang telah serupa dengan kebanyakan negara di dunia telah menyebabkan pergaulan kian leluasa, sehingga dengan dukungan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan serta sarana komunikasi dan transportasi  transfer kebudayaan semakin tanpa batas. Perkembangan masyarakat yang tidak merata, di mana masyarakat desa belum mencapai peningkatan produktifitas yang pesat dan masyarakat nelayan dalam kondisi memprihatinkan menunjukkan betapa peningkatan penggunaan teknologi masih sebatas pada kalangan tertentu saja. Selain masih pasifnya sikap masyarakat, hal itu disebabkan karena belum adanya kepemimpinan yang dapat menggerakkan semua potensi masyarakat Jawa yang masih tidak merata dalam penggunaan produk teknologi. Hal itu juga disebabkan karena pola konsumsi yang berlebihan, di mana penggunaan teknologi belum mendorong masyarakat menjadi produktif melainkan konsumtif.

Di dalam kenyataan masyarakat Jawa masih berada dalam kondisi yang tidak jauh berbeda dalam membina sistem nilai. Masyarakat Jawa masih membeda-bedakan sistem priyayi dan wong cilik, kejawen dan santri. Sistem penggolongan tersebut menyebabkan pembedaan hak dan kewajiban dalam keluarga dan anggota masyarakat. Mentalitas Jawa yang pasif cenderung menyebabkan hambatan dalam pembangunan, dengan perkembangan paham kebatinan yang tidak mendorong pengikutnya untuk berusaha berjuang dalam meraih kehidupan yang lebih baik.

Kondisi di atas tidak selamanya berlangsung di dalam pembentukan mental spiritual masyarakat Jawa. Dalam berjalannya waktu, dikatakan Mahasin (dalam Tanter dan Young 1989: 152), golongan priyayi kelihatan menonjol sebagai sumber rekruitmen, suatu kecenderungan parallel dengan dominannya peran Negara dalam bidang ekonomi dan pentingnya pendidikan sebagai jalan utama untuk menjadi anggota kelas menengah. Modernisasi Islam, dikatakan kembakki oleh Mahasin, telah mendorong terjadinya transformasi di kalangan santri. Transformasi ini berupa munculnya generasi muslim baru yang berpendidikan modern, dan meniti jalan ke dalam pranata-pranata modern dan gaya hidup kelas menengah. Kepentingan mereka dalam sistem yang ada demikian kuat sehingga mereka cenderung mempertahankan staus quo. Mereka memilih untuk bersikap lebih harmonis, menerima system secara damai, kurang radikal dan kurang fanatic terhadap umat, karena yang belakangan ini mungkin mendelegitimasikan posisi representasional mereka di dalam sistem. Dalam gaya hidup mereka secara hati-hati meniru seluruh symbol-simbol kelas menengah dengan pola konsumsi yang vulgar, urban, dan tentu saja gaya patronase. Tetapi ke dalam mereka cenderung bertahan dan memelihara solidaritas kelompok santri, baik untuk menjamin posisi representasi yang mereka pegang maupun untuk memperkuat pengendalian internal mereka. 

D.    Penutup

Masyarakat Jawa merupakan masyarakat dinamis yang mengembangkan kebudayaannya dengan mengakulturasikan dirinya dengan kebudayaan lain yang masuk ke Indonesia. Modernisasi adalah suatu kenyataan yang berlangsung di tengah perkembangan kebudayaan Jawa, sehingga kelentukan suatu kebudayaan dibutuhkan dalam menanggapi kenyataan ini. Kebudayaan Jawa telah melangsungkan hidupnya dalam kurun waktu yang panjang, dan kenyataannya kelentukan kebudayaan ini dalam menerima suatu pengaruh, yaitu tidak dengan pembatasan diri yang keras, justru sebaliknya, ia berusaha memperkaya dirinya.

Masyarakat Jawa senantiasa mengetengahkan gotong royong dan musyawarah, yang menjadi salah satu bagian dari upaya mengkonsolidasikan diri. Kekeluargaan ditanamkan dan jalinan hubungan tersebut adalah jalan membangun kekuatan dalam membina akar-akar kebudayaan dan politik, baik Dari kaum santri maupun abangan, meskipun kerap digunakan dalam membangun hubungan patron-client untuk suatu tujuan tertentu, misalnya untuk menciptakan status quo pada masa Demokrasi Terpimpin. Dalam pemanfaatan teknologi, masyarakat Jawa masih belum secara maksimal menariknya kepada peningkatan produktifiras yang baik, melainkan melenakannnya dalam pola konsumsi yang demikian besar, sehingga masyarakat ini hanya menjadi sasaran pelemparan produk dari pembawa kebudayaan yang jauh lebih kuat, yaitu pengusung kebudayaan modernisme Barat sendiri. 

DAFTAR PUSTAKA

 

Handayani, Christina S dan Ardhian Novianto. 2004. Kuasa Wanita Jawa. Yogyakarta: LKiS. 

Joyomartono, Mulyono. 1991. Perubahan Kebudayaan dan Masyarakat dalam Pembangunan. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. 

Kodiran ‘Kebudayaan Jawa’, dalam Koentjaraningrat (ed). 1988. Manusia dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan. 

Magnis-Suseno, Franz. 2002 Etika Jawa; Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta: Gramedia. 

Mahsin, Aswab. ‘Kelas Menengah Santri: Pandangan Dari Dalam’, dalam Richard Tanter dan Keneth Young (eds). 1989. Politik Kelas Menengah Indonesia. Jakarta: LP3ES. 

Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Kalendar

August 2019
MTWTFSS
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Anda pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini324
mod_vvisit_counterKemarin1018
mod_vvisit_counterMinggu Ini324
mod_vvisit_counterBulan Ini25686
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung4415722