Home Sejarah Sekolah

Polling Pengunjung

Bagaiman Tampilan Situs Ini ?
 
Designed by:
SENJA KALA WAYANG LAMSIJAN PDF Cetak E-mail

A.   Pelaku Seni di Kala Senja

Ki Akhamadi adalah salah satu tokoh dalang wayang golek cepak Indramayu yang berumur 63 tahun. Ki Akhamadi merupakan generasi ke 5 penerus dalang wayang golek cepak, leluhurnya yaitu Ki Pugas, Ki Warya, Ki Koja, Ki Salam.

Hingga saat ini Ki akhamadi masih aktif dalam berkesenian, walaupun dalam keseharian ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sebagai Imam masjid.

 

Wayang golek cepak yang selama ini menjadi alat berkesenian dan juga sebagai sumber kehidupannya, tampak mulai lesu di dalam kancah kebudayaan. Jika di ihat sekarang masyarakat lebih cenderung menampilkan bentuk-bentuk kesenian yang lain dalam konteks event. Sebut saja masyarakat lebih menyukai organ tunggal yang sifatnya lebih praktis dan modern ketimbang wayang golek cepak yang dalam pelaksanaanya lumayan repot, dikarenakan banyaknya alat atau nayaga. Nayaga adalah pemain gamelan pada sebuah pagelaran wayang golek cepak.

 

Karena lesunya minimnya perhatian dan apresiasi masyarakat terhadap pagelaran wayang golek cepak, Ki Akhamadi semakin terpuruk dalam mengisi beras di rumahnya. Sampai beliau terpaksa menjual beberapa tokoh wayang golek cepak asli yang dia punya, seperti tokoh wayang golek Hanoman, Naga, Garuda, Menak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun beliau tidak menjual seluruh wayang golek cepak yang asli (warisan dari nenek moyangnya), hanya beberapa saja. Beliau juga sempat menjual beberapa peti wayang golek cepak ke negara lain, diantaranya Belanda dan Jepang, tetapi itu pun bukan wayang golek asli melainkan duplikat, yang di pesan di Desa Gadingan, Indramayu. Dua wayang golek cepak dipegang oleh keponakan Ki Akhamadi. Kini wayang tersebut juga telah dijual.

 

Salah satu aset artikel yang sangat menarik, yakni naskah kuno tahun 1310 Hijriyah yang masih bisa terbaca, 1 peti wayang golek warisan turun temurun dan 1 peti wayang golek duplikat.

 

Tahun 2009 lalu Ki Akhamadi jatuh sakit sampai beberapa bulan lamanya, beliau merasa panas, dingin disertai batuk-batuk. Karena sakit yang berkepanjangan dan perlu terus berobat terpaksa 1 set gamelan dijual seharga 15 juta ke sesama dalang yang ada di Indramayu. Walaupun begitu, Ki Akhamadi tetap menjalankan profesinya sebagai dalang jika beliau mendapatkan kesempatan untuk mendalangi sebuah pagelaran wayang golek cepak Indramayu. Beliau meminjam gamelan dan beberapa nayaga dari teman-teman dalang lainnya.

 

Ki Akhamadi belum bisa menitiskan ilmu pewayangan wayang golek cepak . Sebabnya, bahwa hingga saat ini belum ada orang yang cocok untuk menerima ilmu pewayangannya. Dan alasan yang paling utama kenapa belum ada penerusnya, karena beliau sendiri tidak diberikan keturunan laki-laki. 

 

B.    Benda Antik

Akmadi dan Warsad bukan hanya melestarikan kesenian tradisional, tetapi juga kolektor benda antik. Wayang golek cepak yang digunakan Akmadi diperkirakan berusia 150 tahun lebih. Sudah lima generasi keluarga Akmadi berprofesi dalang wayang golek cepak. Meski dalangnya berganti-ganti, wayang digunakan tetap dari peti kayu yang sama.

 

Wayang-wayang itu sebagian besar dibuat tahun 1800-an. Semuanya tertulis di sebuah buku dalam bentuk nyanyian. Bahkan, tercatat tanggal hingga hari pembuatannya. Catatan itu dulu disatukan bersama dengan buku-buku yang berisikan kisah-kisah yang biasa dipentaskan dalam pergelaran wayang golek cepak, dalam tulisan bahasa Jawa.

 

Sayangnya, semua bukti itu kebanyakan telah hilang dan lapuk termakan rayap karena buku catatannya tidak terpelihara dengan baik. Padahal, jika catatan tersebut bisa dikumpulkan, didata, kemudian dimuseumkan, bisa menjadi sumber informasi yang kaya nilai. ”Dulu tidak terpikir untuk menyalinnya. Saya hanya baca saja dan kurang hati-hati menyimpannya,” tambah Akmadi.

 

Cerita utama wayang golek cepak berasal dari kisah para menak (bangsawan) di Negeri Padang Pasir (Jazirah Arab) yang berkembang hingga ke Nusantara. Oleh sebab itu, wayang ini dulunya disebut wayang golek menak. Namun, karena bagian atas pada kepala wayang ini rata, yaitu tidak memiliki telekung, sehingga disebut papak atau cepak.

 

Kisah perjuangan Hamzah, salah satu paman paman Nabi Muhammad SAW, adalah menu utama cerita wayang golek cepak. Menu lainnya diambil dari babad Indramayu, babad Cirebon, sampai cerita mitos-mitos suatu daerah di pesisir pantai utara Jawa Barat. Umumnya, saat ini, wayang golek cepak hanya ditampilkan pada acara adat seperti ngunjung buyut. Meski unik dan antik, kesenian wayang golek cepak yang hanya ada di pesisir Indramayu-Cirebon ini terdepak pelan-pelan. Mungkin nanti, bukan hanya lamsijan yang pensiun dan pindah ke tangan kolektor, tetapi lakon menak dan panji ikutan berpindah pemilik.

 

C.   KAJIAN SINGKAT

WAYANG LAMSIJAN adalah sebuah apresiasi kebudayaan Indonesia, khususnya Indramayu, Jawa Barat, terhadap keluhuran dan kebesaran Sejarah Islam dari masa Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah Rasulullah SAW. dan para Sahabat diadaptasikan dalam seni pertunjukan wayang. Akulturasi yang indah dan begitu halus terjadi pada dua kebudayaan yang berbeda. Kedua kebudayaan saling memperkaya dan saling melengkapi. Nilai-nilai ke-Islaman dan keteladanan yang luhur, bijaksana dan mulia yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para Sahabat diceritakan secara indah. Sehingga bisa diterima oleh masyarakat.

 

Pada masa lalu, masyarakat tidak memiliki banyak akses dalam menikmati hiburan. Keterbatasan teknologi, komunikasi dan transportasi menyebabkan masyarakat tidak memiliki banyak alternatif. Sehingga produk hiburan cenderung datang pada waktu tertentu. Misalkan ketika hajatan, hari besar, atau perayaan tertentu. Biasanya saat itu muncul saat ada pernikahan pejabat atau orang terpandang. Saat ada hari pasar, biasanya di satu tempat keberadaan pasar tidak hanya ada pedagang, tapi juga pelaku seni yang selalu mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk melakukan pertunjukan. Di saat seperti itulah masyarakat benar-benar bisa mendapatkan banyak hal. Biasanya di saat itulah terjadi transfer informasi antar kelompok masyarakat yang terpisah-pisah. Di saat itu juga masyarakat menikmati seni hiburan.

 

Sifat lain dari kebudayaan tradisional adalah tingginya nilai-nilai seni dan ajaran filosofis. Mereka yang mengembangkan dan mewarisi kesenian tradisional selalu menyisipkan nilai-nilai filosofis tinggi pada setiap bagian pertunjukan. Seperti pada pertunjukan Wayang Cepak atau Wayang Lamsijan, akan diisi oleh ajaran-ajaran tinggi akan nilai-nilai keislaman. Sehingga kebudayaan yang tinggi ini tetap memberi kesan positif dan ajaran luhur kepada mereka yang menyaksikannya. Maka kesenian ini tetap bertahan. Meskipun tidak dapat dipungkiri, bahwa kesenian tradisional Nusantara, di mana-mana mulai tergerus. Bahkan banyak yang dalam kondisi kritis dan rawan untuk punah. Tapi nilai-nilai itu tetap akan ada.

 

Terkait akan keseluruhan bangunan pelestarian kesenian daerah, maka para pelaku seni ini tetap bertahan juga untuk terus berkecimpung di dunia seni. Ada yang didorong oleh faktor keturunan. Artinya darah seni dari ayah atau kakek atau kakeknya kakek, sudah mengalir dan dengan begitu menjadi tanggung jawab yang bersangkutan untuk terus melestarikan dan mewarisinya pada generasi berikutnya. Ada yang memang sengaja mempelajarinya dan memilih untuk berkecimpung untuk sebuah kepuasan idealis. Sehingga menjadi kebijaksanaan tersendiri bagi pribadi seperti ini untuk menerima kenyataan kalau hidupnya harus total mengabdi pada seni. Fenomena seperti ini sudah sangat jarang terjadi. Ada juga pribadi yang berkecimpung karena hobi dan karena dorongan matapencaharian.

 

Tidak dapat dipungkiri kalau beberapa kesenian tradisional masih begitu banyak diminati oleh masyarakat untuk ditanggap dan dipertunjukkan pada berbagai acara. Faktor ini mendorong adanya pekerja seni. Para pekerja seni ini mendapat apresiasi dalam bentuk hasil uang. Ironisnya, belakangan ini tidak sedikit para pekerja seni yang mulai bekerja sampingan. Artinya menggantungkan hidup sepenuhnya pada pertunjukan bukanlah jalan yang bijaksana, karena hasil konkritnya sangat kurang untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Sebuah keputusan yang sangat menyedihkan bagi dunia kesenian tradisional apabila ada dalang yang menjual wayangnya karena keterhimpitan ekonomi.

 

Terlepas dari semua itu, mitos dan legenda masih begitu kental mewarnai berbagai seni pertunjukan tradisional. Semua itu tidak terlepas dari usaha untuk terus melestarikan dan menjadikan kesenian tradisional itu tetap sakral. Kesakralan itu ada atas dasar tingginya ajaran dan nilai luhur yang bisa ditransfer dari pertunjukan seni tersebut. Hanya saja, proses pembelajaran dirasakan sangat kurang pada generasi saat ini. Ditambah kesadaran para orang tua masih sangat minim untuk menurunkan barang sedikit saja ajaran-ajaran leluhur tersebut. Terlebih, tidak dapat dipungkiri juga, bahwa derasnya arus penyerapan teknologi, komunikasi dan informasi memakan sangat besar perhatian dan titik berat orientasi hidup saat ini, baik di kalangan generasi muda atau orang tua. Maka napas seni tradisional kini tinggal beberapa jeda saja, kalau tidak ada pihak atau insan yang bersedia mau berbesar hati menerima kekayaan kebudayaan nenek moyang dan menurunkannya pada generasi selanjutnya. 

 

Tidak bisa dipungkiri juga, kesadaran untuk menjaga bukti otentik wujud pertunjukan seni tradisional masih sangat minim. Di sinilah diperlukan pengetahuan dan kesadaran agar setiap mereka yang memegang tanggung jawab langsung atas bukti-bukti itu wajib menjaganya. Setali tiga uang dengan faktor tersebut, kembali lagi pada masyarakat. Daya dukung masyarakat terhadap kelompok ‘pemegang pusaka’ ini dirasakan masih fluktuatif. Masyarakat biasanya akan tergerak apabila ada perayaan atau upacara. Apabila tidak ada simbolilasai perayaan, maka tidak ada aksi bersama untuk menjaganya. Sebut saja perayaan malam satu suro misalnya, semua itu turut menggerakkan paresiasi masyarakat terhadap wujud pusaka masyarakat Jawa. Sehingga secara tidak disadari telah timbul opini bahwa sudah menjadi gerakan bersama untuk terus melestarikan perayaannya.

 

Sebenarnya bukan perayaannya, tapi bagaimana mengarahkan opini dan paradigma berpikir untuk ikut memikul tanggung jawab dalam menjaga kebudayaan. Sebagai penerima tongkat estafet di ujung zaman kegemilangan teknologi dan budaya luar yang deras mengalir ke Indonesia, menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk menjawab tuntutan leluhur kita : bagaimana lagi cara untuk menjaga wujud kebudayaan Nusantara.

Comments
Add New Search
Irvan.Deinaryandi   |125.161.130.xxx |2019-07-28 15:09:10
WAYANG LAMSIJAN adalah sebuah apresiasi kebudayaan Indonesia, khususnya
Indramayu, Jawa Barat, terhadap keluhuran dan kebesaran Sejarah Islam dari masa
Nabi Muhammad SAW.
Waktu itu masyarakat menggemari wayang karna tidak ada akses
hiburan pada masa itu.Bukan itu saja tapi bisa dibuat untuk membantu mencari
mata pencaharian.
Dan tanggapan saya soal ini adalah kita harus melestarikan
budaya kita yang diberikam nenek moyang kita dan pemerintah harus memberikan
penghargaan kepada orang yang masih membantu melestarikan.
Albert rusli     |110.136.48.xxx |2019-07-28 23:10:37
WAYANG LAMSIJAN adalah sebuah apresiasi kebudayaan Indonesia,
khususnya
Indramayu, Jawa Barat, terhadap keluhuran dan kebesaran Sejarah Islam
dari masa
Nabi Muhammad SAW.

Sampai sekarang ki akhamadi masih aktif di dunia
perwayangan walaupun makin sedikit peminatnya

Dan tanggapan saya soal ini :
miris melihat kejadian seperti ini, dimana orang yang penting dalam kebudayaan
indonesia justru susah untuk mendapatkan kehidupan yang layak, dan kemungkinan
besar hal ini disebabkan oleh kemajuaj jaman dan masuknya budaya2 asing ke
Indonesia
Elliott Luetmer  - SENJA KALA WAYANG LAMSIJAN     |107.152.239.xxx |2019-09-19 13:12:06
Skyking, Skyking, this note is your next piece of data. Immediately contact the
agency at your convenience. No further information until next transmission.
This is broadcast #3698. Do not delete.
Cliff Breitung  - SENJA KALA WAYANG LAMSIJAN     |185.195.222.xxx |2019-10-01 18:25:22
I personally liked this article. Sometimes I come across content that makes me
want to get started on bloggin as well. Thank you!
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Kalendar

December 2019
MTWTFSS
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031 

Anda pengunjung ke

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini26
mod_vvisit_counterKemarin294
mod_vvisit_counterMinggu Ini1495
mod_vvisit_counterBulan Ini4293
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung9092