Nabi Muhammad SAW dan Perjuangan Menegakkan Masyarakat Ummah Cetak

A.    Abstrak

Nabi Muhammad SAW. merupakan nabi yang menjadi rahmatan lil alamin. Belaiu begitu diagungkan oleh segenap umat Islam di segenap penjuru dunia. Kehadirannya merupakan penerang bagi jalan menuju Allah SWT. Ia membenarkan ajaran-ajaran para nabi sebelumnya dan, sebagaimana para pendahulunya, Nabi Muhammad SAW


mengajarkan tentang keesaan Allah SWT. Tidak ada yang baru dari dasar ajarannya, ia meluruskan akidah umat yang ketika itu mengalami kemerosotan moral dan spiritual. Beliau menyampaikan bahwa beliau nabi terakhir dan Islam adalah agama yang dirodhoi Allah SWT. Karya ini mencoba mengemukakan kehidupan Nabi Muhammad SAW., baik sebagai rasul utusan Allah maupun sebagai manusia biasa dan konsep persatuan ( ummah).
 

B.     Pendahuluan

Manusia memiliki watak atau tabiat untuk meyakini suatu kekuatan di luar dirinya yang berkuasa atas segenap alam pikiran, perasaan, dan materi. Keyakinan tersebut diwujudkan melalui sistem-sistem yang menurut Ramli dkk (2003: 22) terdiri dari credo, yaitu system keyakinan yang harus diyakini oleh pemeluk agama; ritual, yaitu aturan peribadatan yang mengatur manusia dalam berhubungan dengan sang Pencipta; dan nilai dan norma, yang mengatur hubungan antara manusia dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. Keyakinan manusia, yang didorong oleh ketakutan tersebut, merupakan perwujudan agama.

Fitrah (watak) beragama telah ada sejak manusia lahir, bahkan sejak roh manusia berada di alam arwah, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S. Al A’raaf:172.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkanmu keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak menyatakan “Sesungguhnya kami (bani Adam) ialah orarng-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).””

 

Sewaktu Al Quran diturunkan, di dunia telah terdapat berbagai agama dan kitab yang dianggap suci oleh para pengikutnya. Banyak orang Arab yang menjadi Nasrani dan Yahudi, atau condong kepada salah satu di antaranya. Di Madinah, misalnya, Ka’ab bin Asyraf, seorang kepala suku, memeluk agama Yahudi dan menjadi musuh Islam. Waraqah bin Naufal, paman dari Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad SAW., adalah seorang penganut Nasrani, yang memahami bahasa Ibrani dan telah menterjemahkan Injil dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Arab (Tim Penterjemah Al Quran 2000: 44). Penduduk kota Mekah juga banyak menjadi pagan, dan tak sedikit pula di antara mereka yang menyembah berhala-berhala.

Nabi Muhammad SAW. merupakan nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT bagi umat manusia. Ia menjadi rahmat bagi alam semesta dan pelita nan benderang bagi manusia yang mencari penerangan hati dalam menempuh jalan menuju Allah. Ia tidak menganulir ajaran para nabi yang diutus sebelumnya, melainkan membenarkan ajaran-ajaran mereka di samping juga menyempurnakannya. Nabi Muhammad SAW. Meluruskan akidah umat, menuntun mereka ke dalam ajaran yang selamat dan diridhoi Allah SWT. Dalam karya ini akan dikemukakan kehidupan Nabi Muhammad SAW. 

C.    Para Nabi Menegakkan Ajaran Menyembah Hanya Kepada Allah

Nabi-nabi telah diutus oleh Allah kepada suatu kaum untuk membawa berita gembira, yaitu agar kaum tersebut menyembah hanya kepada Allah SWT. Nabi Hud diutus bagi kaum Aad (Q.S. Al A’raaf: 65). Nabi Saleh diutus bagi kaum Tsamud (Q.S. Al A’raaf: 73). Kepada penduduk Mad’yan diutuslah Nabi Syu’aib. Mereka diutus bagi kaum mereka masing-masing untuk menyerukan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Di antara nabi-nabi yang diutus oleh Allah SWT., terdapat nabi-nabi yang memperoleh kitab suci, seperti nabi Musa dan nabi Isa. Mereka adalah nabi-nabi yang diutus bagi kaum Yahudi. Musa memperoleh kitab suci Taurat dan Isa memperoleh kitab suci Injil. Kitab suci Injil merupakan penyempurna atas kitab suci Taurat, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al Maidah: 46 “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putera maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat….”

Nabi Muhammad SAW. Seorang merupakan pembaharu  agama dan sosial yang telah membangkitkan salah satu peradaban besar dunia. Esposito menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai pendiri Islam dalam perspektif histories modern (2001: 83). Dari perpektif agama Islam, beliau adalah Rasul utusan Allah, yang menjadi “pemberi peringatan”, mula-mula bagi bangsa Arab, dan kemudian bagi seluruh umat manusia. Nabi Muhammad SAW. adalah seorang manusia biasa yang menjadi utusan Allah bagi segenap umat manusia. Tanda-tanda kenabiannya telah tampak sejak ia kecil. Beberapa kisah menyebutkan bahwa selama Aminah mengandung Muhammad, cahaya terang memancar dari wajahnya. Ketika Muhammad lahir, begitu belau muncul, seberkas cahaya terang memancar dan menerangi Kota Busra di Suriah.

Kondisi masyarakat Mekah pada masa kelahiran Nabi Muhammad SAW demikian diliputi oleh kemakmuran. Mekah ketika itu adalah sebuah kota penting dalam perdagangan. Ia dilalui jalur perdagangan penting yang menghubungkan Yaman di selatan dan Suriah di utara. Ka’bah, bangunan ibadah yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Ismail a.s., berada di tengah kota itu. Mekah, dengan adanya Ka’bah, menjadi pusat keagamaan Arab, yang didatangi untuk beribadah dan berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala yang mengelilingi Hubal, dewa utama.

Masyarakat Arab ketika itu hidup berdasarkan kedukuan. Wilayahnya kebanyakan terdiri dari padang pasir dan stepa. Mayoritas penduduknya adalah suku Badui yang bergaya hidup padang pasir dan nomandik, sedang sebagian lainnya menetap di kota-kota seperti Mekah dan Madinah. Organisasi dan identitas social berakar pada keanggotaan dalam suatu masyarakat yang luas. Satu kelompok terdiri dari beberapa kabilah atau suku (klan). Masyarakat umumnya menekankan hubungan kesukuan., di mana kesetiaan atau solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah. 

D.    Kehadiran Nabi Muhammad ke Dunia

Nabi Muhammad adalah anggota Bani Hasyim, sebuah kabilah yang paling mulia dalam suku Quraisy. Tahun kelahirannya dikenal sebagai tahun gajah, karena pada tahun itu terjadi peristiwa datangnya pasukan gajah menyerbu Mekah untuk menghancurkan Ka’bah. Pasukan itu dipimpin oleh Abrahah, Gubernur dari Kerajaan Nasrani Abessinia yang memerintah di Yaman.

Ismail a.s., setelah membangun Ka’bah, menikah dengan seorang perempuan penduduk Mekah dari suku Jurhum yang berasal dari Yaman dan kemudian menetap di kota ini turun-temurun. Keturunan Nabi Ismail a.s. disebut sebagai Bani Ismail atau Adnaniyyun. Penduduk Mekah (suku Jurhum) ditaklukkan oleh salah satu rombongan kabilah yang dipimpin oleh Harits bin Amir (bergelar khuza’ah). Rombongan kabilah itu adalah salah satu dari sekian banyak rombongan yang berbondong-bondong meninggalkan daerah mereka menuju utara sewaktu bendungan besar di Ma’rib di Arab Selatan pecah dan menimbulkan malapetaka besar pada penduduknya. Selama dikuasai oleh Khuza’ah Bani Ismail berkembang dan sebagian besar meninggalkan negeri mereka, bertebaran di berbagai pelosok Jazirah Arab. Hanya Suku Quraisy yang tetap tinggal di kota itu, tanpa memiliki kekuasaan atas Mekah atau Ka’bah. Pada abad V Masehi, seorang pemimpin Suku Quraisy bernama Qushai, berhasil merebut kekuasaan dari kaum Khuza’ah. Kota Mekah dan Ka’bah berhasil dikuasai kembali oleh para keturunan Ismail. Nabi Muhammad adalah keturunan Qushai. Ayahnnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdulmanaf bin Qushai bin Kilab bin Murah. Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdumanaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murah.

Menurut kebiasaan orang-orang Arab, anak-anak yang baru lahir diasuh dan disusui leh wanita kampong dengan maksud mendapat udara desa yang lebih bersih serta pergaulan masyarakat yang lebih baik bagi pertumbuhan anak-anak, selain agar dapat berbicara bahasa Arab dengan fasih. Halimah binti Dua’ib as-Sa’diyah, dari Desa Sa’ad, dekat Kota Ta’if, suatu daerah pegunungan yang sangat baik udaranya, tak terlalu dingindan tak sepanas Mekah. Halimah, seperti kebanyakan wanita di desanya, berkeliling Mekah mencari para wanita yang mau menitipkan anak-anak mereka. Ia mendapat bayi yatim bernama Muhammad dari ibunya, Aminah (Ensiklopedia Islam 1999: 160).

Halimah dan Haris, sang suami, mengambil putera aminah untuk diasuh. Sejak kecil bayi ini telah memperlihatkan keistimewaan yang tidak terdapat pada bayi-bayi lain. Pertumbuhan badannya sangat cepat. Pada usia lima bulan ia sudah pandai berjalan dan pada usia sembilan bulan ia sudah bias berbicara. Pada usia dua tahun ia sudah bias dilepas bersama anak-anak Halimah untuk menggembalakan kambing. Pada usia itu ia berhentu menyusu dan dikembalikan kepada orang tuanya di Mekah. Wabah penyakit di Kota Mekah menyebabkan halimah kembali mengasuh Muhammad.

Pada usia antara empat sampai lima tahun ia diserahkan kembali kepada ibunya. Pada usia enam tahun Aminah mengajak sang anak untuk diperkenalkan kepada keluarga nenek Bani Najjar dan berziarah ke makam sang ayah, dengan ditemani seorang sahaya bernama Ummu Aiman. Dalam perjalanan pulang mereka sampai di kampung Abwa, antara Mekah dan Madinah, sekitar 37 km dari Madinah. Secara tiba-tiba Aminah sakit dan beberapa hari kemudian meninggal dunia, lalu ia dimakamkan di sana. Muhammad kemudian di antar Ummu ke kakeknya Abdul Muthalib untuk dirawat. Setelah dua tahun dirawat, sang kakek meninggal dunia. Beliau diasuh oleh pamannya Abi Talib.

Pada usia dua belas tahun beliau mengikuti pamannya Abu Talib membawa barang dagangan ke Syam. Sesampainya di Bushra Abu Talib bertemu dengan pendeta Nasrani bernama Buhaira. Pendeta itu melihat Muhammad selalu dinaungi oleh awan ke manapun ia berjalan sehingga ia selalu merasa teduh meski udara Bushra ketik itu begitu panas. Pendeta itu juga melihat punggung Muhammad bercahaya. Mengetahui tanda-tanda itu, sang pendeta segera mengundang Abu Talib dan rombongan dalam sebuah perjamuan. Dikatakan olehnya bahwa Muhammad adalah nabi yang diutus Allah untuk menjadi penuntun menuju jalan yang benar dan lurus, untuk itu ia meminta agar Abu Talib menjaga Muhammad baik-baik. Berkat kejujurannya Muhammad dipercaya mengelola dagangan seorang janda kaya bernama Khadijah, yang di kemudian hari menjadi istrinya. 

E.     Kenabian Muhammad

Muhammad mulai melakukan taharuts (menyiapkan diri) di Gua Hira, setelah ia menikah dengan Khadijah, untuk mendapatkan pemusatan jiwayang lebih sempurna. Pada malam 17 Ramadhan (6 Agustus 610 M), ketika ia sedang melakukan taharuts, datanglah Malaikat Jibril membawa tulisan dan memintanya membaca tulisan itu. Beliau tak dapat membacanya. Direngkuhnya Muhammad, namun tetap tak dapat membaca, hingga setelah tiga kali Malaikat Jibril merengkuhnya, beliau dapat membaca tulisan yang merupakan wahyu pertama, yaitu Surat Al Alaq ayat 1-5. umur beliau telah 40 tahun 6 bulan 8 hari ketika menerima wahyu pertama itu. Beliau lalu pulang dalam keadaan gemetar, sehingga Khadijah harus menyelimutinya sembari berusaha menenangkan hati sang suami yang begitu dicintainya itu. Dua setengah tahun kemudian beliau menerima wahyu kedua, yaitu Surat Al Mudatsir ayat 1-7.

Al Quran merupakan sumber utama bagi segala langakh kehidupan umat Islam. Al Quran sebagai sumber pertama tersalurnya aspirasi Islam, dikatakan oleh Qamarulhadi (1986: 19), lebih dahulu menjelajahi dan menggetarkan jaringan-jaringan tubuh yang halus, merembas dengan ketat ke dalam batin, dan dengan dalil-dalil yang aksiomatik (kebenaran yang terbuka) ia bersifat mendorong akal seseorang supaya lebih banyak mengarahkan perhatian kepada gejala-gejala alam jagad, untuk menyelidiki dan mengungkap dahsyatnya Penciptaan Allah serta pola-pola yang terselip dan tersimpan di dalamnya.Al Quran mengantar insane kepada keseimbangan lahir dan batin, sembari menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Al Quran terdiri dari 114 Surat, 30 juz dan 6236 ayat. Ayat-ayat Al Quran biasanya dibedakan atas Surat-surat Makiyah dan Surat Madaniah. Surat-surat Makiyah merupakan surat-surat yang diturunkan di Mekah sebelum Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah. Surat-surat Makiyah meliputi 19/30 isi Al Quran (86 surat dan 4780 ayat), yang umumnya pendek-pendek. Surat-surat Makiyah mengandung ajaran yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran budi pekerti.

Surat-surat Madaniah adalah surat-surat yang diturunkan di Madinah, setelah Nabi Muhammad SAW. hijrah ke Madinah. Surat-surat Madaniah meliputi 11/30 isi Al Quran (28 surat dan 1456 ayat). Yang umumnya terdiri dari ayat-ayat yang panjang-panjang. Surat-surat ini mengandung tuntunan tentang hukum-hukum, baik hukum adat maupun hukum duniawi, seperti hukum kemasyarakatan, hukum ketatanegaraan, hukum perang, hukum internasional, hukum antar agama dan sebagainya. Dalam Surat Madaniyah terdapat perkataan “ya ayyuhalladzina aamanu” dan sedikit sekali perkataan “yaa ayyuhannaas”, sedangkan Surat-surat Makiyah sebaliknya.

Al Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. melalui beberapa cara. Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini beliau tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa itu sudah berada saja dalam kalbunya. Mengenai hal ini ia mengatakan “Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku (Q.S. Asy Syura: 50).” Wahyu diterima melalui penampakan Malaikat kepada Nabi Muhammad SAW berupa laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hapal benar apa kata-kata itu. Wahyu datang kepadanya melalui cara yang lain lagi seperti gemericingnya lonceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh sang nabi. Kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena merasa berat, bila wahyu itu turun melalui cara seperti itu, ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit: “Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu barulah beliau kembali seperti biasa.” Cara terakhir, yaitu Malaikat menampakkan dirinya kepada Rasulullah tak berupa laki-laki tetapi benar-benar seperti rupa aslinnya. Hal terakhir ini tersebut dalam Surat An Najm ayat 13 dan 14 “Sesungguhnya Muhammad telah melihatnya pada kali yang lain (kedua). Ketika (ia berada) di Sidratulmuntaha.”

Dalam Islam keadilan social merupakan hal yang utama. Menurut Armstrong (2005: 6) umat Islam diperintah membangun suatu komunitas (ummah) yang ditandai dengan kasih saying, di mana terdapat distribusi kekayaan yang adil. Nabi Muhammad meminta mereka meninggalkan berhala-berhala seperti Latta, Uzza, dan Manat. Al Quran memiliki pendekatan praktis yang mengandung pesan “pengingat” kebenaran sebagaimana kitab-kitab sebelumnya. Muhammad tampil untuk meluruskan akidah, seperti Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman, atau Isa.

Muhammad diutus ke dunia ketika dunia dalam keadaan kacau-balau, segalanya jungkir balik, berantakan, tak peraturan bagai dilanda gempa dahsyat. Muhammad dengan pandangan seorang nabi, menyaksikan menusia telah kehilangan kemanusiaannya, tinggal sosok tubuh yang menyembah batu, pohon atau kali, atau benda lain yang bahkan tak berarti apa-apa bagi dirinya sendiri (Al-Nadwi 1988 121). Muhammad sebagaimana para nabi sebelumnya, tidak diperintakan menghapus kejahatan dengan kejahatan. Beliau semata-mata diutus ke dunia sebagai pembawa berita gembira (basyir) dan pemberi kabar duka (nadzir), penyeru kepada kebenaran Allah, sebagai pelita terang benderang.

Perkembangan ajaran Muhammad demikian pesat dan mulsai mengkhatirkan kaum Quraisy. Orang Quraisy memboikot Bani Hasyim dan Bani Mutholib, yang selama ini melindungi Rasulullah. Hal itu dilakukan untuk merusak dakah Rasulullah. Selama dua tahun boikot itu melanda Rasulullah dan para sahabat serta keluarga mereka. Besar kemungkinan bahwa Khadijah meninggal dunia disebabkan oleh boikot ini, di mana tak ada yang boleh melakukan transaksi jual beli dengan mereka yang memiliki keterkaitan dengan Nabi Muhammad SAW., di samping juga adanya peraturan lain, seperti larangan menuikah dengan para pengikut Rasulullah.

Pada saat menghadapi ujian berat, Rasulullah mengalami peristiwa ghaib, yaitu isra dan mi’raj. Perjalana ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 11 sesudah beliau diangkat sebagai nabi. Perjalanan yang ditempuh Rasulullah adalah dari Mekah ke baitul Maqdis di Palestina, terus naik ke langit ke tujuh dan Sidratulmuntaha. Di situlah beliau menerima perintah langsung dari Allah tentang shalat. Di samping memberi kekuatan batin, perjalanan ini menjadi ujian bagi kaum muslimin sendiri, apakah mereka beriman dan percaya kepada kejadian menakjubkan ini, yaitu perjalanan beratus-ratus mil serta menembus tujuh lapis langit dan hanya ditempuh dalam satu malam saja.

Kondisi itu mendorong kaum muslim untuk hijrah ke Yatsrib (yang kemudian dikenal dengan nama Madinah), sekitar 250 mil dari Mekah, tempat di mana banyak suku nomad telah menetap, dan yang lebih penting lagi mau menerima kedatangan sang nabi. Migrasi ini dilakukan selama 622 M. Hijrah ini menandai era muslim, karena Rasulullah mulai dapat menerapkan gagasan Al Quran secara maksimal dan bahwa Islam menjadi sebuah factor dalam sejarah. Ini adalah langkah revolusioner. Hijrah bukan sekedar perubahan tempat tinggal. Di Arab suku merupakan nilai suci. Meninggalkan kelompok yang masih memiliki hubungan darah adalah suatu hal yang belum pernah terdengar; pada prinsipnya ini adalah menghina tuhan, dan kaum Quraisy tidak dapat memaafkannya.

Selama tahun awal berada di Madinah Rasulullah memperkenalkan beberapa ibadah, seperti shalat Jumat. Pada Januari 624 M ia melakukan sesuatu yang menjadi salah satu dari gerak tubuhnya yang paling kreatif. Masih dalam keadaan shalat, ia memberi tahu jamaah untuk berputar sehingga mereka berdoa ke arah Mekah dan bukan Jerusalem (Armstrong 2005:21). Perubahan kiblat ini merupakan pernyataan kemerdekaan. Merubah kiblat menunjukkan bahwa umat muslim tidak memiliki keterkaitan dengan Yahudi atau Nasrani. Muslim inngin menunjukkan bahwa mereka memeluk monoteisme Ibrahim yan murni dan asli.

Perkembangan penting kedua, segera terjadi setelah perubahan kiblat. Muhammad dan para pengikutnya tidak memiliki sarana untuk hidup di Madinah, tidak cukup lahan untuk mereka bertani dan mereka adalah bukan petani melainkan pelaku dagang. Penduduk Madinah, yang dikenal dengan sebutan anshar (kaum penolong) tak dapat menghidupi mereka selalu. Mereka kemudian mengambil jalan melalui gazw, semacam serangan yang dapat disebut sebagai sejenis olah raga Arab, namun menjadi sarana sederhana namun efektif untuk meredistribusikan kekayaan di wilayah-wilayah yang kekurangan. Pada 624 M, Muhammad membawa pengikutnya untuk menghadapi kafilah mekah terbesar  dan tentara yang dikirim suku Quraisy dalam suatu pertempuran gemilang yang dikenal dngan perang Badr, di mana pertempuran ini dimenangkan kaum muslim.

Muhammad telah menjadi kepala kelompok yang tidak terikat kesukuan, hubungan darah, namun dalam satu ideology bersama, sebuah inovasi mengagumkan dalam masyarakat Arab. Tiada paksaan dalam mengikuti Al Quran, namun kaum Muslim, Yahudi, pagan, semua bersatu dalam ummah, tidak boleh saling menyerang, dan berjanji untuk saling melindungi. Armstrong menyebut konsep ini sebagai “super suku”, dan “super suku ini terbukti merupakan inspirasi bagi masyarakat Arab sebelum wafat Nabi pada 632 M, selang sepuluh tahun setelah  hijrah

E.  Penutup

Ketika para utusan kabilah-kabilah Arab datang menghadap nabi untuk menjadi pemeluk agama Islam, kemudian disusul turunnya Surat An Nashr, maka terasa oleh beliau bahwa tugasnya telah selesai. Rasulullah berniat melakukan Haji Wada’ (haji penghabisan) ke Mekah. Pada 23 Zulkaedah tahun 10 Hijriah Rasulullah meninggalkan Madinah bersama sekitar 100.000 orang untuk mengerjakan haji. Sebelum menyelesaikan haji beliau berpidato amanat yang bernilai di hadapan kaum muslimin di Bukit Arafah pada 8 Zulhijah 10 H (7 Maret 632 M). setelah mengerjakan haji Rasulullah kembali ke Madinah. Kira-kira tiga bulan setelah berhaji beliau menderita demam beberapa hari, sehingga tak dapat mengimami shalat jemaah, maka disuruhnya Abu Bakar menggantikannya sebagai imam. Pada tanggal 12 Rabiul awwal 11 H (8 Juni 632 M), Nabi Muhammad SAW kembali ke hadirat Allah SWT. dalam usia 63 tahun. Dua puluh tiga tahun lamanya beliau tanpa mengenal lelah diangkat menjadi Rasul Allah.

Daftar Pustaka 

Al Quran Nur Qarim. 

Al-Nadwi, Abu’l-Hasan. 1988. Islam Membangun Peradaban Dunia. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya

Armstrong, Karen. 2005. Islam, Sejarah Singkat. Yogyakarta: Jendela.

Qamarulhadi, S. 1986. Membangun Insan Seutuhnya. Bandung: Alma’arif. 

Ramli, Ismail Fahri, Zaim El-Mubarok, Khamidun, dan Anirotul Qoriah. 2003. Memahami Konsep Dasar Islam. Semarang: Universitas Negeri Semarang Press. 

Sumber-sumber lainnya 

Ensiklopedia Islam. 1999. Jakarta: Ikhtiar Baru van Hoeve. 

Esposito, John L. 2001. Ensiklopedia Dunia Islam Modern. Bandung: Mizan.

Comments
Add New Search
Teddy Setiawan  - Nabi Muhammad saw   |115.178.207.xxx |2019-07-28 18:18:55
Menarik Dan mudah dipahami
Mengenai nabi Muhammad Saw Karena nabi Muhammad Saw
terkena serangan ghaib karena di angkat menjadi seorang raja untuk melayani
masyarakat sekitar
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."