GOYANG KARAWANG Cetak

A.   KESENIAN JAIPONG

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri).

Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar.

 

Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah. Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian.

 

Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).

 

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

 

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

 

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan.

 

Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.

 

B.    PEMAKNAAN GOYANG KARAWANG

Dari hasil penelusuran di Karawang, ditemukan pemaknaan yang lebih dalam lagi tentang Goyang Karawang. Berawal dari seni tari Topeng Banjet, kemudian banyak gerakan tarian yang indah, energik dan ritmik yang diadaptasikan ke berbagai gerakan tari yang ada sekarang ini.

 

Topeng Banjet adalah kesenian yang memadukan unsur tarian, komedi dan sandiwara dalam satu kemasan. Diiringi oleh music tradisional, seni ini begitu popular selama masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Masa itu, nyaris tidak ada kesenian yang bisa menggantikan Topeng Banjet di pesisir utara Jawa Barat, terutama Karawang. Pasalnya media masa saat itu sangat terbatas. Masyarakat tidak memiliki akses untuk menikmati hiburan seperti tonil, bioskop dan drama yang digelar di gedung-gedung kesenian besar di Kota. Masyarakat juga tidak mungkin menghabiskan waktu bepergian untuk mencapai gedung kesenian itu yang notabene berada di Kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta.

 

Topeng Banjet adalah jawaban atas kebutuhan hiburan massa saat itu. Pertama dipagelarkan secara besar-besaran. Kedua tidak da pengorbanan untuk menikmatinya. Ketiga secara kultur sangat dekat dengan masyarakat Karawang. Kesenian ini erat kaitannya dengan kultur agraris, di mana kebiasaan aktivitas rakyat untuk bertani di siang hari dan istirahat sejak memasuki senja. Maka kesenian ini digelar kebanyakan pada malam hari.

 

Topeng Banjet kemudian menjadi begitu mengemuka saat memasuki era Revolusi Kemerdekaan. Pertama dengan kesenian ini masyarakat bisa berkumpul. Dengan berkumpul ada transfer informasi. Dengan begitu memudahkan dalam transfer pemikiran. Dengan kekuatan daya pikatnya, dalam waktu relative singkat, kesian ini ikut menyuburkan semangat pembangunan berkat penghiburannya pada masyarakat. Secara tidak disadari, psikologi masyarakat akan semangat kerja terbangun, karena ada estimasi waktu bagi mereka untuk menikmati hiburan Cuma-Cuma.

 

Pada akhirnya topeng banjet ini terus dikembangkan dan diadaptasikan ke dalam berbagai bentuk kesenian tari. Salah satunya adalah jaipongan, yang banyak berkembang di Jawa Barat bagian tengah. Sampai kesenian ini begitu popular dengan goyangannya. Asosiasi yang ada pada waktu itu adalah bahwa goyang karawang selalu rapat dengan kesenian tari dari Karawang. Bukan kesenian yang dekat dengan erotisme. Goyang karawang adalah interpretasi budaya dalam semangat pembangunan pasca Revolusi Kemerdekaan. Berkat penghiburannya, Karawang menjadi salah satu lumbung padi Pulau Jawa. Sedikit banyak kesenian ini merapat pada kultur agrarsi, seperti yang disampaikan di atas.

 

Unsur Mistis tidak bisa terlepas dari kesenian ini. Ada ritual dan persembahan yang terbagi atas beberapa bagian. Pertama persembahan pada Sang Maha Kuasa. Kedua persembahan pada Karuhun atau leluhur. Ketiga persembahan pada arwah sekitar tempat pertunjukan. Persembahan ini diinterpretasikan dalam bentuk sesajen dan perlengkapannnya. Persembahan ini juga dituturkan dalam doa dan mantra khusus yang dirapalkan oleh Tetua Pertunjukan atau Pawang. Keahlian dan kemampuan ini bersifat khusus. Artinya tidak sembarang orang bisa melakukan. Ada keyakinan filosofis yang terkendung di dalam persembahan ini. Pertama Puja dan Puji Syukur ke Hadirat Allah SWT, yang telah memberi nikmat sehat dan iman. Sehingga kesenian ini bisa bertahan dan dipagelarkan. Kedua adalah penghormatan pada arwah leluhur, karena berkat leluhurlah kesenian ini diwariskan sebagai wasilah atau perantaraan pewarisan semua unsurnya. Ketiga adalah penghormatan pada arwah setempat, karena pagelaran ini digelar di tempat terkait.

 

C.   PENURUNAN MAKNA GOYANG KARAWANG

Saat ini asosiasi masyarakat terhadap istilah Goyang Karawang selalu bertendensi pada erotisme. Hal itu dimungkinkan mengingat begitu banyaknya praktik pertunjukkan seni hiburan yang banyak menonjolkan erotisme dan sensualitas berlebih. Biasanya pertunjukan-pertunjukan yang digelar berupa konser music dangdut. Di mana di dalamnya sangat sarat akan pengadopsian gerakan-gerakan tarian jaipong atau banjet yang sudah sedemikian rupa dimodifikasi. Pada tataran ini unsur mistik dan ritual sudah tidak diindahkan. Bahkan sudah tidak menjadi prioritas. Tidak ada pakem khusus yang mengendalikan. Perpaduan antara seni pertunjukan modern dan tradisional begitu luar biasa. Tidak ada batasan antara pelaku seni dan penikmat seni. Semua terlibat dalam pertunjukan. Semua bebas mengekspresikan dirinya. Tidak jarang idiom-idiom “nakal” menjadi penyedap pertunjukan, yang banyak menjadi bagian dalam lirik lagu-lagu dangdut pop. Tidak cukup sampai di situ. Penyerapan unsur kesenian dandut modern juga terjadi pada kesenian jaipong. Saling pengaruh dan “memperkaya” ini menjadi kecenderungan yang tidak bisa dihindari dan tidak terpisahkan dalam kultur masyarakat kontemporer di Pesisir Utara Jawa Barat, terutama Karawang.

 

Kondisi di atas begitu dominan, sehingga menyita pemikiran masyarakat. Paradigma yang sudah terlanjur jungkir balik ini diperparah lagi dengan cara generasi muda Karawang dalam mengidentifikasi produk kebudayaan mereka. Sangat jarang pemuda Karawang dan sekitarnya yang bisa langsung menangkap maksud sesungguhnya dari istilah “Goyang karawang”. Bahkan mereka langsung mengidentikannya dengan pemahaman umum yang ada saat ini. Goyang Karawang adalah erotisme rendah dan sensualitas berlebih dari para pelaku seni di atas panggung pertunjukan. Goyang Karawang yang sesungguhnya, yaitu suatu semangat dan gairah pembangunan masyarakat kota melalui stimulus seni tradisional lokal yang dekat dan akrab dengan keseharian dan saling terkait dengan aspek sosial, budaya dan ekonomi lokal. Semua pemahaman dasar yang seharusnya diwariskan tersebut kini gagal diserap. Semua ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa masyarakat Karawang khususnya atau Indonesia umumnya yang lalai terhadap akar budaya lokal.

 

Permasalahan tampaknya bagai bergulirnya bola salju yang terus membesar. Kini kelompok-kelompok pelaku seni tradisional lokal mengalami kondisi yang memprihatinkan. Paling tidak, itu yang dialami sebagian besar dari para pelaku kesenian tradisional Karawang. Penurunan intensitas pertunjukan dan berkurangnya minat masyarakat terhadap pertunjukan ini menjadi faktor utama. Selain itu sedikitnya kaderisasi menjadi masalah lainnya yang siap menerkam kesenian seperti Topeng Banjet. Kurang memikatnya kesenian ini di mata generasi penerus bisa jadi mempengaruhi pola pikir mereka. Bahkan tidak jarang muncul pertanyaan apakah masih relevan mempelajari kesenian ini, mengingat publikasi yang sangat sedikit dan manfaat yang sangat jarang. Dengan kata lain, sebenarnya para generasi penerus berada pada persilang pemikiran. Mereka bertanya, beri kami alas an untuk mempelajari kesenian tradisional.

 

Pemerintah Karawang jelas seharusnya mengambil peran strategis. Baik sebagai penyangga kesenian mapun penyandang kesenian. Penyangga, dalam hal ini adalah sebagai pihak yang menjadi garda terdepan dalam pengembangan kesenian. Penyandang, dalam hal ini adalah penyedia fasilitas dan dana yang bisa memberi kemudahan dalam ruang gerak, akses dan aktivitas para pelaku seni. Pemerintah setempat juga seharusnya bisa memberikan pencerahan dan publikasi yang memadai tentang berbagai produk budaya local. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengidentifikasi budaya mereka. Masyarakat juga bisa mengakses informasi resmi dengan mudah. Sehingga semua berjalan secara simultan.

 

Masih belum lengkap kalau belum memasukkan seni hiburan modern. Unsur ini jelas banyak memberi sumbangan yang bagai pisau bermata dua. Publikasi yang luar biasa beberapa tahun ini tentang goyang karawang jelas membawa kesenian ini sebagai fenomena. Sebut saja film layar lebar Arwah Goyang Karawang. Cerita dalam film ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesenian dan nilai-nilai luhur kebudayaan warisan leluhur Karawang. Sempat menjadi titik keresahan para pelaku seni Karawang, sehingga menimbulkan protes yang cukup serius. Tapi film ini tetap mengemuka dan masyarakat tetap menikmatinya sebagai sebuah pertunjukan film horror-erotis. Belum lagi peranan kelompok-kelompok seni pertunjukan local yang turut membawa-bawa istilah Goyang Karawang dengan berbagai variasinya, juga turut memberi sumbangan atas penurunan pemaknaan.

 

Alhasil tentu saja penurunan pemaknaan terhadap istilah Goyang Karawang ini tidak bisa dihindarkan. Paling banter orang akan merapatkan Goyang Karawang dengan susuk, ritual sesajen dan aktivitas mistis yang tidak ada kaitannya dengan nilai luhur kesenian lokal sebagai produk budaya dan pemikiran nenek moyang.

Comments
Add New Search
Maichael Vanes Jonatan can  - KESENIAN JAIPONG     |115.178.205.xxx |2019-07-21 18:17:52
kesenian jaipong pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari
"Daun Pulus,Keser Bojong",dan "Rendeng Bojong" yang keduanya
merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan.

Goyang Karawang dengan susuk,
ritual sesajen dan aktivitas mistis.

Tari Jaipongan identik dengan perempuan
memiliki bentuk tubuh yang ideal dan menarik.

Hal ini karena berkaitan dengan
munculnya anggapan bahwa garakan tari Jaipong telah mengeksploitasi tubuh
perempuan.

"Gerakan itu khususnya pada gerakan pinggul perempuan.
Adelia Christyna wijaya     |182.0.143.xxx |2019-07-21 18:55:45
Tari banjet sangat banyak di minati pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia
Belanda.
Namun semakin berkembang nya zaman, banyak tarian" Modern yang
masuk ke Indonesia sehingga anak muda zaman sekarang lebih meminati tarian
modern dan lebih mau mempelajari tarian modern, di banding tarian
tradisional,.
Menurut pendapat saya
Tarian" Tradisional Indonesia yg sangat
indah ini wajib di angkat kembali agar tidak di lupakan oleh penerus
bangsa,.
Misalnya di tampilkan di beberapa acara pertelevisian agar banyak orang
yang tahu dan meminati tarian ini.

Ketika ada film horor-erotis yg tayang dan
menayangkan tarian ini, banyak sekali yg mengacap bahwa ada beberapa sisi mistis
yg membuat beberapa kalangan mengkritik pedas.
Semoga kedepannya jika ada film
yg menayangkan tarian tradisional tidak di bubuhi aura yg membuat masyarakat yg
menonton berfikir negatif.
Adelia Christyna wijaya     |182.0.143.xxx |2019-07-21 18:56:37
Tari banjet sangat banyak di minati pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia
Belanda.
Namun semakin berkembang nya zaman, banyak tarian" Modern yang
masuk ke Indonesia sehingga anak muda zaman sekarang lebih meminati tarian
modern dan lebih mau mempelajari tarian modern, di banding tarian
tradisional,.
Menurut pendapat saya
Tarian" Tradisional Indonesia yg sangat
indah ini wajib di angkat kembali agar tidak di lupakan oleh penerus
bangsa,.
Misalnya di tampilkan di beberapa acara pertelevisian agar banyak orang
yang tahu dan meminati tarian ini.

Ketika ada film horor-erotis yg tayang dan
menayangkan tarian ini, banyak sekali yg mengacap bahwa ada beberapa sisi mistis
yg membuat beberapa kalangan mengkritik pedas.
Semoga kedepannya jika ada film
yg menayangkan tarian tradisional tidak di bubuhi aura yg membuat masyarakat yg
menonton berfikir negatif.
Steven christy     |180.214.233.xxx |2019-07-21 19:09:56
Tari banjet sangat banyak di minati pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia
Belanda.
Menurut pendapat saya
Tarian" Tradisional Indonesia yg sangat indah
ini wajib di angkat kembali agar tidak di lupakan oleh penerus bangsa,.
Misalnya
di tampilkan di beberapa acara pertelevisian agar banyak orang yang tahu dan
meminati tarian ini.
Karna munculnya anggapan bahwa gerakan tari jaipong telah
meng eksploitasi kan tubuh perempuan.
Alvin Lie  - TARI JAIPONG     |114.124.198.xxx |2019-07-23 16:20:28
Tari Jaipong lahir dari kreatifitas seorang seniman Bandung bernama Gugum
Gumbira yang menaruh perhatian besar pada kesenian rakyat seperti tari pergaulan
Ketuk Tilu. Gugum Gumbira memang sangat mengenal pola-pola gerak tari
tradisional Ketuk Tilu, seperti gerak bukaan, pencugan, nibakeun, dan
gerakan-gerakan lainnya.

Pada awal kemunculannya, Tari Jaipong disebut dengan
Ketuk Tilu Perkembangan karena tarian ini memang dikembangkan dari tari Ketuk
Tilu.

Karya Gugum Gumbira yang pertama kali dikenal masyarakat adalah Tari
Jaipong "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong". Dari
kedua jenis tarian itu, muncullah sejumlah nama penari Jaipong yang terkenal
seperti Tati Saleh, Eli Somali, Yeti Mamat, dan Pepen Dedi Kurniadi. Kemudian
pada tahun 1980-1990-an, Gugum Gumbira kembali menciptakan tari lainnya seperti
Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, dan lain-lain. Kembali lagi muncul
penari-penari Jaipong ...
Carlihartono  - Tari Jaipong     |223.255.225.xxx |2019-07-23 16:25:32
Home Travel News Destination Photos Muslim Traveler D'travelers
Stories D'travelers Photos Travel Highlight Video Most Popular Travel
Ideas Travel Inside Snapshot Syarat & Ketentuan Indeks

Write a StoryUpload
Photo

Home / Travel News / Detail

Selasa, 09 Apr 2019 18:50
WIB

Serba-serbi Tari Jaipongan Mulai dari Gerakan hingga Busana

Niken Widya
Yunita - detikTravel

Serba-serbi Tari Jaipongan Mulai dari Gerakan hingga
Busana/Foto: iStock

Jakarta - Tari Jaipongan sudah sangat populer. Ini
serba-seri Tari Jaipongan dengan gerakan dan busananya. 

Tari ini berasal dari
Jawa Barat. Tarian merupakan gabungan dari beberapa kesenian tradisional seperti
Wayang Golek, Pencak Silat, dan Ketuk Tilu.

Gerakan dalam tarian ini sangat
enerjik dan unik. Apalagi diiringi dengan alat musik degung. Banyak orang pun
jadi ikut menari saat menonton tarian ini.

Sebelum mengenal tentang Tari
Jaipongan, lebih baik mengetahui sejarah...
Ravi  - Tari jaipong     |115.178.219.xxx |2019-07-23 16:26:16
Posisi Jaipongan pada saat itu menjadi seni pertunjukan hiburan alternative dari
seni tradisi yang sudah tumbuh dan berkembang lebih dulu di karawang seperti
penca silat, topeng banjet, ketuk tilu, tarling dan wayang golek. Keberadaan
jaipong memberikan warna dan corak yang baru dan berbeda dalam bentuk
pengkemasannya, mulai dari penataan pada komposisi musikalnya hingga dalam
bentuk komposisi tariannya.
Melvina Hensan     |223.255.225.xxx |2019-07-23 19:43:33
Menurut saya, kesenian tari jaipong tidak boleh dilupakan oleh generasi bangsa
lainnya Tari banjet sangat banyak di minati pada masa Pemerintahan Kolonial
Hindia Belanda.
Lingardi   |175.106.8.xxx |2019-07-23 19:46:24
Karya Gugum Gumbira yang pertama kali dikenal masyarakat adalah Tari
Jaipong
"Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong". Dari
kedua jenis
tarian itu, muncullah sejumlah nama penari Jaipong yang terkenal
seperti Tati
Saleh, Eli Somali, Yeti Mamat, dan Pepen Dedi Kurniadi. Kemudian
pada tahun
1980-1990-an, Gugum Gumbira kembali menciptakan tari lainnya seperti
Toka-toka,
Setra Sari, Sonteng, Pencug, dan lain-lain. Kembali lagi muncul
penari-penari
Jaipong ...
david kalta imanuel  - tari jaipong slurr   |180.251.209.xxx |2019-07-23 20:33:44
Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang
seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang
salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul
perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada padaKliningan/Bajidoran atau
Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak
mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk
mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.



Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di
masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung,
genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun
pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian
Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni.
Christabel Giovanni  - TUGAS SOSIOLOGI X-IPS     |140.213.49.xxx |2019-07-23 20:38:07
Menurut saya, jaipong adalah kesenian Indonesia yang patut dibanggakan,
seharusnya kita melestarikan dan bangga terhadap kesenian dri Indonesia.
Pertingkat rasa nasionalisme kita, cintai budaya dan bangsa kita.
mattlysander  - tari jaipong   |202.80.214.xxx |2019-07-23 20:44:03
menurut saya tari jaipong tdk boleh di lupakan krn merupakan tari adat
tradisional yg amat di minati turus mancanegara.
mattlysander  - tari jaipong     |202.80.214.xxx |2019-07-23 20:51:57
menurut saya tari jaipong tdk boleh di lupakan krn merupakan tari adat
tradisional yg amat di minati banyak turis mancanegara.
Leonardo  - Tugas sosiologi     |36.88.63.xxx |2019-07-23 21:14:57
Tari jaipong yang lahir dari seorang seniman,dan juga tari jaipong termasak ke
dalam tarian adat. Maka sangat disayangkan jika dilupakan. Tari tari indah
seperti ini Harus di lestarikan terus menerus supaya tidak dilupakan oleh semua
orang.
Anonymous   |120.188.36.xxx |2019-07-24 16:02:01
Tari jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat
jawa barat baik pasa seni pertunjukan wayang,degung,genjeing/terbangan, kacapi
jaipong dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut dan tari
jaipong berasal dari bandung jawa barat jaipong sangat terkenal di indonesia
Julius Franciscus (tamvan)  - Tari Jaipong (TUGAS SOSIOLOGI XII IPS)     |115.178.221.xxx |2019-07-27 13:28:05
Tari jaipong sampai saat ini masih di kembangkan, walaupun hanya sedikit yang
masih melestarikan nya tetapi tari ini sangat terkenal di kalangan masyarakat,
awal mula di buat tari ini dari Jawa barat, tarian ini semestinya di pertahankan
karena suatu peninggalan yg sangat baik untuk di lestarikan.
(Maaf jika ada
kesalahan/kekurangan dalam perkataan karena saya manusia yg dapat salah juga,
terima kasih)
Aileen vanisia  - Tugas sosiologi (tari jaipong)     |115.178.219.xxx |2019-07-27 13:47:32
Tari banjet sangat diminati pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia
Belanda.
Dan
menurut saya kesenian jaipongan sangat unik dan bermanfaat bila dikembangkan
lebih lagi, sayangnya banyak tarian" Modern yang masuk ke Indonesia dan
lebih diminati daripada tarian tradisional.

kita sebagai generasi muda
harusnya lebih bisa mengembangkan dan mengenalkan tarian tradisional Indonesia
ke luar, agar tarian" Tradisional tidak tergeser oleh adanya tarian modern
dari luar.
Julius Franciscus  - re: Tari Jaipong (TUGAS SEJARAH XII IPS)     |115.178.221.xxx |2019-07-27 14:26:19
Julius Franciscus (tamvan) wrote:
Tari jaipong sampai saat ini masih di kembangkan, walaupun hanya sedikit
yang masih melestarikan nya tetapi tari ini sangat terkenal di
kalangan masyarakat, awal mula di buat tari ini dari Jawa barat,
tarian ini semestinya di pertahankan karena suatu peninggalan yg sangat
baik untuk di lestarikan.
(Maaf jika ada kesalahan/kekurangan dalam
perkataan karena saya manusia yg dapat salah juga, terima kasih)
Marceline  - Tugas Sejarah XII IPS     |112.215.151.xxx |2019-07-27 23:44:28
Tari ini sangat banyak diminati pada masa pemerintahan kolonial Hindia belanda.
Semakin berkembangnya zaman banyak tarian modern datang ke indonesia dan
membuat anak muda zaman sekarang lebih meminati tarian modern dari pada tarian
tradisional.
Jadi kesenian tari jaipong tidak boleh di lupakan dan harus terus
di lestarikan
Kelvin  - Tugas sosiologi XII IPS     |36.69.76.xxx |2019-07-28 17:06:36
Tari jaipong merupakan tarian daerah yang berasal dari jawa barat. Kehadiran
tarian ini membawa dampak yang positif seperti membangkitkan rasa keingintahuan
tentang berbagai jenis tari, melestarikan kebudayaan indonesia, dsb. Tetapi
seiring berjalannya waktu globalisasi mulai berkembang ke seluruh dunia termasuk
kedalam indonesia. Setelah masuknya globalisasi mulai orang-orang beralih ke
dalam dunia teknologi yang canggih sehingga peminat seluruh tarian daerah
(termasuk tari jaipong) berkurang dan generasi yang baru lahir (generasi
kita/generasi milenial) kebanyakan tidak mau tahu tentang masa dahulu atau
sejarah tentang apapun dan menganggap kebudayaan itu kuno.

Jadi kita boleh
saja mengikuti perkembangan zaman tetapi kita juga harus menjaga kebudayaan kita
karena Kebudayaan merupakan hal yang dapat membangun negara Indonesia menjadi
maju dan berkembang.
Boby kenny  - Sosiologi xii-iis     |140.213.42.xxx |2019-07-28 22:09:49
Tari Jaipong lahir dari kreatifitas seorang seniman Bandung bernama
Gugum
Gumbira yang menaruh perhatian besar pada kesenian rakyat seperti tari
pergaulan
Ketuk Tilu. Gugum Gumbira memang sangat mengenal pola-pola gerak
tari
tradisional Ketuk Tilu, seperti gerak bukaan, pencugan, nibakeun,
dan
gerakan-gerakan lainnya.

Pada awal kemunculannya, Tari Jaipong disebut
dengan
Ketuk Tilu Perkembangan karena tarian ini memang dikembangkan dari tari
Ketuk
Tilu.

Karya Gugum Gumbira yang pertama kali dikenal masyarakat adalah
Tari
Jaipong "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong".
Dari
kedua jenis tarian itu, muncullah sejumlah nama penari Jaipong yang
terkenal
seperti Tati Saleh, Eli Somali, Yeti Mamat, dan Pepen Dedi Kurniadi.
Kemudian
pada tahun 1980-1990-an, Gugum Gumbira kembali menciptakan tari lainnya
seperti
Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, dan lain-lain. Kembali lagi
muncul
penari-penari Jaipong
Putri anggelina  - Tugas sejarah XII IIS     |180.214.232.xxx |2019-07-28 23:06:28
Tari jaipong adalah tarian tradisional yang berasal dari Bandung Jawa Barat yang
diciptakan oleh Gugum Gumbira. Sejarah tari jaipong sebenarnya telah mulai
muncul pada kisaran tahun 1979 namun baru dikemas ulang oleh Gugum Gumbira pada
tahun 90-an.

Selain dapat digunakan sebagai hiburan, tarian ini juga berfungsi
sebagai tari andalan dari Bandung Jawa Barat. Keunikan gerakan jaipongan memang
memberikan nuansa baru pada waktu itu dengan menggabungkan beberapa macam
gerakan kesenian tradisional seperti pencak silah dan ketuk tilu.
Properti yang
digunakan dalam sebuah pementasan jaipong secara garis bersar dapat dibedakan
menjadi dua yakni busana serta musik pengiring.

Dengan memahami materi mengenai
jenis tari tradisional dari Bandung di atas khususnya sejarah tari jaipong tentu
kita dapat melihat betapa besarnya jasa seorang seniman dalam menciptakan sebuah
kesenian.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."